En bref
- Pasar NFT di Asia Tenggara kembali ramai setelah euforia 2021–2022 mereda, dengan fokus baru pada utilitas, gim, dan aset dunia nyata.
- Pertumbuhan Pasar kini lebih dipengaruhi oleh kualitas Platform NFT, biaya transaksi, dan kejelasan aturan, bukan sekadar “hype”.
- Tren seperti Koleksi Digital berbasis AI, phygital, Ordinals di Bitcoin, dan integrasi DeFi memperluas cara orang memakai NFT.
- Mayoritas transaksi bernilai kecil: lebih dari 50% penjualan NFT tercatat berada di bawah US$200, menandakan pasar massal yang sensitif harga.
- Adopsi kuat terlihat di negara Asia seperti India, Vietnam, Singapura, dan Indonesia, terutama dari usia muda dan komunitas gim.
- Teknologi Blockchain yang dominan tetap Ethereum, namun Solana, Polygon, dan jaringan lain makin relevan untuk kebutuhan biaya murah dan throughput tinggi.
Setelah gelombang besar 2021–2022 surut, banyak yang mengira NFT akan menjadi catatan kaki dalam sejarah kripto. Kenyataannya, di kawasan Asia Tenggara sinyalnya berbeda: pasar tidak lagi “meledak” karena sensasi, tetapi bergerak cepat karena kebutuhan. Kolektor, pengembang gim, kreator konten, sampai brand ritel mulai menata ulang strategi mereka—dari sekadar menjual gambar profil, menjadi membangun Koleksi Digital yang memberi akses, manfaat, dan status komunitas. Di saat sebagian publik masih bingung (bahkan di AS pernah tercatat mayoritas orang belum paham apa itu NFT), pengguna di kota-kota seperti Singapura, Ho Chi Minh City, Jakarta, dan Bangkok justru memperlakukan NFT sebagai tiket masuk ke ekosistem: item gim yang bisa diperdagangkan, membership event, hingga bukti keaslian produk fisik.
Perubahan ini terjadi di tengah data global yang menunjukkan pasar makin “dewasa”: volume bisa turun dalam satu minggu, lalu pulih karena rilis gim Web3 atau koleksi populer. Artinya, Pasar NFT kini mengikuti ritme produk, komunitas, dan infrastruktur. Di 2026, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi “apakah NFT mati?”, melainkan “NFT mana yang benar-benar dipakai orang?”—dan di sinilah Ekonomi Digital Asia Tenggara menemukan momentumnya.
Gelombang Baru Pasar NFT di Asia Tenggara: Pertumbuhan Pasar yang Lebih Sehat
Di 2026, kebangkitan Pasar NFT di Asia Tenggara terasa seperti musim kedua yang lebih realistis. Jika periode 2021–2022 ditandai lonjakan transaksi ekstrem—bahkan ada fase ketika perdagangan NFT secara global sempat melompat ratusan persen antar-kuartal—maka fase sekarang lebih mirip “pasar ritel” yang mencari produk yang benar-benar berguna. Orang masih memburu koleksi terkenal, tetapi mereka juga menilai layanan purna jual, roadmap komunitas, dan nilai pakai di luar sekadar spekulasi.
Untuk memahami mengapa kawasan ini cepat menyala, bayangkan kisah hipotetis “Raka”, seorang ilustrator lepas di Bandung. Raka sempat mencoba menjual Karya Seni Digital pada 2022, lalu berhenti saat minat mereda. Pada 2026, ia kembali—kali ini bukan dengan janji “to the moon”, melainkan menawarkan NFT yang menjadi kartu anggota bagi pembeli: akses kelas menggambar bulanan, diskon komisi, dan hak mengikuti voting tema karya berikutnya. Kolektor merasa memperoleh manfaat konkret, sedangkan Raka membangun pendapatan berulang. Pola seperti ini, yang sering disebut utilitas, membuat Pertumbuhan Pasar lebih tahan banting.
Di sisi lain, data global menunjukkan bahwa nilai transaksi tidak selalu besar. Banyak catatan pasar memperlihatkan lebih dari 50% penjualan berada di bawah US$200. Ini selaras dengan karakter Asia Tenggara: pasar luas, sensitif harga, dan sangat komunitas-driven. Maka, keberhasilan proyek sering ditentukan oleh biaya transaksi yang rendah dan pengalaman pengguna yang sederhana—bukan hanya “nama besar”.
Perlu juga dicatat, perputaran pasar bisa fluktuatif. Pernah terjadi periode mingguan di mana volume penjualan turun lebih dari dua puluh persen dibanding minggu sebelumnya. Namun, fluktuasi seperti itu tidak otomatis berarti runtuh; sering kali itu efek kalender rilis, sentimen makro, atau rotasi modal ke sektor lain. Di Asia Tenggara, satu rilis gim Web3 yang viral saja bisa mengangkat volume di marketplace atau jaringan tertentu, seperti yang pernah terlihat ketika gim populer memicu lonjakan aktivitas di ekosistem Polygon dan marketplace terkait.
Yang membuat kawasan ini menonjol adalah kombinasi “kebiasaan digital” dan kreativitas lokal. Dari budaya trading item gim, kecintaan pada koleksi, hingga ekonomi kreator yang besar, NFT menjadi lapisan kepemilikan yang terasa natural. Ketika Teknologi Blockchain makin mudah diakses lewat dompet yang ramah pemula dan on-ramp pembayaran lokal, hambatan masuk mengecil. Insight akhirnya: pasar yang bertahan adalah pasar yang menemukan kebiasaan harian pengguna, dan Asia Tenggara kuat di sana.

Siapa yang Membeli dan Menjual NFT di 2026: Demografi, Motivasi, dan Kebiasaan Transaksi
Gambaran pembeli NFT di 2026 semakin jelas: pasar tidak hanya diisi “pemburu cepat kaya”, melainkan komunitas dengan motif yang berbeda-beda. Secara global, minat terbesar sering muncul dari rentang usia muda—kelompok 18–24 tampak paling banyak menyatakan ketertarikan, disusul 25–34. Ini terasa relevan di Asia Tenggara, di mana populasi produktif besar dan budaya digital melekat pada keseharian, dari streaming hingga gim.
Namun, cerita demografi tidak berhenti pada usia. Ada perbedaan mencolok pada gender: di banyak survei, pria jauh lebih mungkin mengoleksi NFT dibanding perempuan. Di lapangan, ini sering beririsan dengan budaya kripto dan komunitas trading yang historisnya didominasi laki-laki. Meski begitu, di Asia Tenggara mulai muncul proyek yang menargetkan komunitas kreator perempuan—misalnya koleksi yang berfungsi sebagai akses mentorship, ruang pamer virtual, atau tiket event—yang pelan-pelan menyeimbangkan partisipasi.
Motivasi juga beragam. Kelompok pria usia 35–54, misalnya, kerap menyebut alasan “penggemar crypto art” saat membeli NFT. Ini penting karena menunjukkan bahwa Karya Seni Digital masih menjadi pintu masuk emosional: orang membeli bukan hanya untuk dijual lagi, tetapi karena menyukai estetika, reputasi seniman, atau ingin mendukung gerakan seni baru. Di Asia Tenggara, motif ini sering bercampur dengan kebanggaan lokal—kolektor menyukai karya yang menampilkan budaya Nusantara, simbol kota, atau narasi folklor yang diolah modern.
Dari sisi perilaku pasar, aktivitas di marketplace besar memberi ukuran skala. Pernah tercatat ratusan ribu orang bertransaksi NFT setiap bulan di salah satu marketplace terbesar, dan jumlah akun aktif yang membeli/menjual telah menembus angka jutaan pada 2024. Angka-angka ini membantu membaca 2026: basis pengguna tidak kecil, tetapi penetrasi terhadap populasi umum tetap rendah (bahkan proyeksi penetrasi global masih di kisaran sepersekian persen beberapa tahun ke depan). Artinya, ruang pertumbuhan masih lebar—terutama bila produk makin mudah dipahami dan risiko makin terkelola.
Menariknya, kepemilikan pada kelompok usia lebih tua dapat menonjol di negara tertentu. Ada data yang menunjukkan Vietnam termasuk yang relatif tinggi untuk pemilik NFT berusia lebih tua. Di Asia Tenggara, hal ini bisa terjadi karena migrasi keterampilan digital yang cepat: generasi yang lebih senior ikut masuk lewat peluang komunitas, investasi kecil-kecilan, atau karena anaknya mengenalkan. Pertanyaan retoris yang sering muncul: bila generasi senior saja bisa ikut, apa yang sebenarnya menghambat massa? Jawabannya biasanya bukan teknologi, melainkan edukasi, keamanan, dan kepastian aturan.
Insight penutupnya: pasar 2026 ditentukan oleh segmentasi motif. Mereka yang mengejar komunitas, utilitas, dan pengalaman cenderung lebih loyal daripada spekulan murni—dan loyalitas inilah bahan bakar adopsi jangka panjang.
Perubahan perilaku ini juga terlihat dari cara orang belajar dan menemukan tren, dari ulasan kreator sampai video analisis pasar.
Angka, Volume, dan Nilai: Membaca Statistik Pasar NFT Tanpa Terjebak Sensasi
Statistik NFT sering dipakai sebagai amunisi debat: ada yang menunjuk penurunan volume untuk menyatakan “NFT selesai”, ada pula yang menunjuk proyeksi pasar hingga 2030 untuk mengklaim “NFT akan menguasai segalanya”. Di 2026, membaca angka perlu konteks. Satu laporan proyeksi menyebut pasar global NFT bisa menuju ratusan miliar dolar pada 2030 dengan laju pertumbuhan majemuk yang sangat tinggi. Di sisi lain, ada juga proyeksi yang jauh lebih konservatif untuk ukuran pasar tertentu, menunjukkan pertumbuhan pelan setelah 2024–2025. Kedua narasi bisa benar, karena yang diukur bisa berbeda: ada yang menghitung total tokenisasi lintas industri, ada yang hanya menghitung pendapatan marketplace atau segmen digital tertentu.
Untuk Asia Pasifik, proyeksi pertumbuhan sering lebih agresif. Ada perkiraan yang menggambarkan laju tahunan yang sangat tinggi dan nilai pasar yang besar menjelang 2028, didorong oleh gim, budaya koleksi, dan adopsi blockchain. Namun, angka besar tidak otomatis berarti semua proyek menang. Justru, angka mikro seperti komposisi transaksi lebih berguna bagi pelaku di Asia Tenggara: ketika mayoritas penjualan berada di bawah US$200, maka dapat disimpulkan bahwa strategi “jual mahal sekali, lalu menghilang” akan sulit bertahan. Proyek perlu volume, retensi komunitas, dan biaya transaksi rendah.
Ada indikator lain yang menarik: rasio pembeli terhadap penjual pernah berada di atas 100%, artinya pembeli lebih banyak daripada penjual dalam periode tertentu. Kondisi seperti ini biasanya mengindikasikan minat masih ada, meski tidak selalu tercermin dalam harga lantai yang naik. Ini juga menjelaskan mengapa banyak kreator di Asia Tenggara kembali mencoba: pasar terasa “ramai”, walau lebih selektif.
Di level rantai, Ethereum masih menjadi pusat perdagangan NFT paling mapan, sering disebut memegang porsi dominan. Tetapi di Asia Tenggara, dominasi itu ditantang oleh kebutuhan praktis. Kolektor pemula lebih suka jaringan dengan biaya rendah dan transaksi cepat. Karena itu, Solana dan Polygon sering jadi pilihan untuk Koleksi Digital massal, sementara Ethereum tetap jadi “galeri utama” untuk karya premium dan koleksi bersejarah seperti CryptoPunks. Bahkan, muncul alternatif di Bitcoin lewat Ordinals—pendekatan yang menempelkan aset digital pada unit satoshi—yang memikat pengguna yang percaya pada citra keamanan Bitcoin.
Berikut ringkasan data yang bisa membantu membaca pasar secara operasional, bukan emosional.
Indikator |
Gambaran Angka |
Makna Praktis untuk Asia Tenggara (2026) |
|---|---|---|
Nilai transaksi kecil mendominasi |
>50% penjualan tercatat |
Produk harus mudah dibeli; fokus pada volume, utilitas, dan komunitas. |
Aktivitas pengguna marketplace besar |
Ratusan ribu trader bulanan; basis aktif pernah tembus jutaan |
Pasar ada, tapi persaingan ketat; diferensiasi merek dan UX menentukan. |
Rasio pembeli vs penjual |
>100% pada periode tertentu |
Minat beli masih ada; proyek yang “on-time” dengan rilis dan utilitas cenderung menang. |
Fluktuasi volume mingguan |
Pernah turun >20% dalam sepekan pada 2024 |
Jangan panik dengan data jangka pendek; pantau siklus rilis dan sentimen. |
Rekor penjualan NFT |
Karya seperti The Merge pernah terjual sekitar US$91,8 juta |
Menunjukkan ekor atas (high-end) ada, tetapi tidak mewakili pasar massal. |
Insight akhirnya: angka besar membuat berita, angka kecil menentukan strategi. Di bagian berikutnya, pembahasan mengerucut ke arena yang paling dirasakan pengguna: Platform NFT dan persaingannya.
Platform NFT dan Infrastruktur Blockchain: Dari OpenSea ke Pemain Baru, Apa yang Dicari Asia Tenggara
Di 2026, memilih Platform NFT mirip memilih pusat perbelanjaan: lokasi, keamanan, biaya, dan “tenant” menentukan keramaian. OpenSea tetap sering disebut sebagai marketplace dengan skala penjualan yang sangat besar secara historis. Namun, pasar tidak lagi tunggal. Banyak pengguna Asia Tenggara menginginkan pengalaman yang lebih lokal: biaya rendah, pembayaran yang mudah, koleksi yang relevan budaya, dan fitur komunitas yang kuat.
Perubahan ini melahirkan dua konsekuensi. Pertama, chain pilihan menjadi lebih variatif. Ethereum unggul dalam likuiditas dan reputasi, tetapi biaya bisa menjadi penghalang untuk transaksi kecil. Solana dikenal cepat dan murah, menarik bagi komunitas gim dan koleksi massal. Polygon sering dipakai untuk eksperimen brand karena biaya rendah dan integrasi yang luas. Di sisi lain, jaringan seperti Immutable dan Mythos menargetkan segmen gim dengan infrastruktur yang lebih “siap pakai” untuk developer.
Kedua, model bisnis marketplace ikut berubah. Setelah fase awal yang mengandalkan biaya transaksi, banyak platform kini berlomba menambah alat untuk kreator: fitur minting yang lebih mudah, kurasi berbasis AI, halaman profil yang bisa dipakai sebagai portofolio, sampai analitik pembeli. Pemain baru seperti Frame dan RARI menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk diferensiasi, misalnya lewat desain pengalaman kolektor atau mekanisme royalti yang lebih fleksibel. Ini penting karena sebagian kreator Asia Tenggara hidup dari karya harian; mereka butuh kepastian pendapatan, bukan hanya “viral sesaat”.
Ambil contoh hipotetis “Studio NusaPlay” di Surabaya, pengembang gim kecil yang ingin meluncurkan item NFT untuk karakter langka. Mereka menghadapi pilihan: bila memakai Ethereum, item terlihat “prestisius” tetapi biaya bisa mematikan transaksi mikro. Bila memakai Polygon atau Solana, mereka bisa menjual item seharga setara puluhan ribu rupiah tanpa biaya yang terasa. Studio akhirnya memilih strategi hibrida: item massal di chain murah, sedangkan skin edisi kolektor dijual di chain yang lebih mapan untuk kolektor global. Strategi seperti ini makin umum, karena pengguna tidak lagi fanatik pada satu chain; mereka fanatik pada pengalaman.
Dalam konteks Teknologi Blockchain, isu keamanan dan penipuan juga makin menonjol. Banyak pemula Asia Tenggara masuk lewat tautan komunitas, sehingga risiko phishing tinggi. Marketplace yang menonjol di 2026 biasanya memiliki verifikasi koleksi, peringatan transaksi mencurigakan, dan edukasi in-app. Bahkan, inovasi dompet seperti MPC (multi-party computation) dan login yang lebih ramah pengguna memperkecil risiko kehilangan aset karena salah kelola seed phrase—sebuah langkah penting untuk adopsi massa.
Insight penutupnya: pemenang platform di Asia Tenggara bukan yang paling besar, melainkan yang paling mengurangi friksi. Dan friksi terbesar sering muncul saat NFT harus “bertemu” dunia nyata—yang menjadi tema berikutnya.
Di berbagai komunitas, diskusi soal pemilihan chain dan marketplace sering dipandu video breakdown yang praktis, terutama bagi pemula yang ingin menghindari biaya tinggi.
Tren 2026 yang Menggerakkan Ekonomi Digital: AI, Gim, Aset Dunia Nyata, dan Phygital di Asia Tenggara
Tren NFT pada 2026 semakin menjauh dari narasi tunggal “koleksi gambar”. Yang terjadi justru penggabungan beberapa arus besar: AI, gim, DeFi, metaverse, dan tokenisasi aset dunia nyata. Di Asia Tenggara, tren ini terasa kuat karena karakter kawasan yang cepat mengadopsi produk digital sekaligus memiliki pasar ritel yang besar. Saat orang terbiasa membeli skin gim, voucher, atau tiket konser lewat aplikasi, NFT menjadi format baru untuk “kepemilikan yang bisa dibawa-bawa”.
Salah satu tren yang menonjol adalah AI-curated collections. Bukan sekadar gambar dibuat AI, tetapi AI dipakai untuk mengkurasi koleksi sesuai selera pengguna: warna favorit, gaya seni, sampai tema budaya. Bagi kreator, kurasi berbasis algoritme membantu karya ditemukan tanpa harus viral dulu. Bagi kolektor, pengalaman terasa personal—seperti etalase yang disusun khusus. Dalam praktiknya, ini mengubah strategi pemasaran: bukan hanya promosi, melainkan optimasi metadata, narasi, dan komunitas agar “terbaca” oleh sistem rekomendasi.
Tren kedua adalah tokenisasi gim. Banyak gim kini memperlakukan item sebagai aset ekonomi: karakter, tanah virtual, atau material langka menjadi NFT yang bisa dipakai lintas ekosistem tertentu. Kisah yang pernah terjadi ketika gim Web3 tertentu mendongkrak volume perdagangan marketplace dan jaringan blockchain menunjukkan betapa kuatnya efek “konten yang dimainkan”, bukan sekadar dilihat. Asia Tenggara—dengan basis gamer besar—mendapat keuntungan struktural. Pertanyaannya: apakah semua gim NFT akan sukses? Tidak. Yang bertahan biasanya yang menyeimbangkan gameplay dan ekonomi, sehingga tidak terasa seperti “kerja demi token” semata.
Tren ketiga adalah integrated NFTs dan kepemilikan fraksional, yang dipopulerkan oleh standar baru seperti ERC-404. Intinya, NFT bisa dipadukan dengan sifat token fungible agar lebih mudah diperdagangkan sebagian. Ini membuka jalan bagi Investasi NFT dengan modal lebih kecil. Di Asia Tenggara, ini sangat relevan karena banyak pengguna ritel lebih nyaman mencicil atau membeli porsi kecil daripada membeli satu aset mahal. Namun, model ini juga menuntut edukasi ekstra agar orang paham risiko volatilitas dan mekanisme likuiditasnya.
Tren keempat adalah tokenisasi aset dunia nyata: properti, karya seni fisik, sampai barang koleksi. Konsep ini sering disebut mengubah lanskap investasi karena meningkatkan likuiditas dan memperluas akses. Di kawasan ini, contoh yang mudah dipahami adalah sertifikat keaslian barang koleksi: sneaker edisi terbatas, mainan kolektor, atau batik premium bisa diberi “paspor digital” di blockchain. Pembeli tidak hanya mendapatkan barang, tetapi juga riwayat kepemilikan dan verifikasi keaslian. Inilah jembatan yang membuat NFT terasa “masuk akal” untuk orang yang tidak peduli kripto.
Tren kelima adalah phygital, perpaduan fisik dan digital. Bayangkan brand kopi di Yogyakarta yang menjual membership NFT: pemiliknya dapat cangkir edisi khusus (fisik) dan akses event cupping (pengalaman), plus badge digital untuk komunitas. Model seperti ini mendorong retensi karena NFT menjadi alat hubungan pelanggan, bukan komoditas semata. Pada titik ini, Ekonomi Digital dan ekonomi offline tidak lagi terpisah; NFT menjadi penghubung identitas, akses, dan bukti kepemilikan.
Insight terakhir: masa depan NFT di Asia Tenggara ditentukan oleh proyek yang mengikat identitas, utilitas, dan pengalaman nyata—bukan sekadar kelangkaan digital.
