Berita terkini & terpercaya

Evolusi Kebijakan Militer AS di Amerika Latin di Era Trump 2026

Ketika Donald Trump kembali memegang kendali di Washington, perubahan arah Kebijakan Militer AS di Belahan Barat terasa jauh lebih gamblang: bahasa ancaman menjadi lebih keras, Diplomasi Militer lebih sering tampil di ruang publik, dan kawasan Amerika Latin kembali diposisikan sebagai halaman depan Keamanan Regional AS. Di lapangan, pergeseran ini tidak selalu berarti invasi besar-besaran; sering kali ia hadir sebagai kombinasi tekanan politik, operasi kontra-narkotika yang diperluas, latihan bersama yang dipilih secara selektif, dan sinyal pencegahan terhadap aktor eksternal seperti Tiongkok dan Rusia. Namun, karena retorika “America First” cenderung menuntut hasil cepat, kebijakan menjadi lebih transaksional: siapa yang membantu agenda keamanan AS mendapat akses, teknologi, atau intelijen; siapa yang dianggap menghalangi, menghadapi isolasi, sanksi, atau ancaman tindakan paksa.

Di saat yang sama, dinamika domestik AS ikut membentuk keputusan: debat anggaran, tarik-menarik faksi Partai Republik, serta tuntutan publik untuk “menang” melawan kartel dan migrasi ilegal. Dampaknya terasa hingga ke ibu kota Amerika Latin, dari rapat kabinet pertahanan sampai percakapan warga di perbatasan. Untuk memahami Evolusi ini, kita perlu melihat bukan hanya slogan, melainkan perangkat kebijakan yang dipakai, aktor yang diuntungkan, dan risiko yang ditanggung—termasuk bagaimana Hubungan Internasional kawasan berubah ketika militer dijadikan bahasa utama negosiasi.

En bref

  • Strategi Militer AS di Amerika Latin pada Era Trump menonjolkan pencegahan, operasi kontra-kartel, dan tekanan terhadap rezim yang dianggap menantang Washington.
  • Peningkatan anggaran pertahanan AS sejak 2019 membentuk ruang gerak yang lebih besar bagi operasi, logistik, dan proyeksi kekuatan.
  • Doktrin Monroe dimaknai ulang sebagai payung legitimasi politik untuk memperketat pengaruh eksternal (Tiongkok/Rusia) dan memperluas kerja sama keamanan selektif.
  • Pengaruh Politik AS di kawasan semakin bergantung pada kombinasi intelijen, sanksi, latihan gabungan, serta kesepakatan bilateral yang pragmatis.
  • Konsekuensinya: beberapa negara melihat peningkatan kapasitas keamanan, sementara yang lain menghadapi polarisasi domestik dan eskalasi ketegangan.

Dari Doktrin Monroe ke retorika “America First”: Evolusi Kebijakan Militer AS di Amerika Latin pada Era Trump

Perubahan yang paling mudah terlihat dalam Era Trump adalah cara AS membingkai Amerika Latin: bukan semata tetangga yang “perlu dibantu”, melainkan arena kompetisi kekuatan dan sumber ancaman lintas batas. Di sini, Evolusi kebijakan tidak berhenti pada dokumen strategi, melainkan menempel pada kalimat-kalimat pendek yang efektif di media: kartel disebut “teroris”, migrasi diperlakukan sebagai isu keamanan, dan rezim tertentu dituding sebagai titik masuk pengaruh pesaing global.

Jejak historisnya panjang. Doktrin Monroe pada abad ke-19 awalnya menolak campur tangan Eropa, tetapi dalam praktik berpuluh tahun kemudian kerap dipakai untuk membenarkan intervensi di kawasan. Dalam narasi Trump, doktrin itu diberi pakaian baru: Amerika Latin diposisikan sebagai ruang yang harus “steril” dari penetrasi strategis pihak luar, terutama dalam infrastruktur pelabuhan, teknologi telekomunikasi, dan akses mineral kritis. Di titik ini, Hubungan Internasional kawasan menjadi lebih tegang karena negara-negara dipaksa memilih: menerima pendanaan dan investasi dari mana, dengan konsekuensi keamanan tertentu.

Agar tidak terdengar abstrak, bayangkan kisah hipotetis seorang pejabat keamanan perbatasan di negara fiktif “San Isidro”, yang menjadi jalur transit narkotika. Ketika Washington menawarkan paket bantuan intelijen dan pelatihan pasukan khusus, syaratnya bukan hanya penangkapan bandar, tetapi juga pembatasan kontrak 5G dengan perusahaan tertentu dan pengetatan izin pelabuhan. Bagi San Isidro, itu mempercepat modernisasi keamanan, tetapi memicu perdebatan politik dalam negeri: apakah ini kerja sama atau bentuk tekanan? Pertanyaan seperti itu muncul berulang di banyak ibu kota.

Dalam konteks kebijakan, Trump cenderung menyukai kesepakatan bilateral yang terukur: “Anda melakukan A, kami memberi B.” Ini mempercepat keputusan teknis, tetapi membuat kerja sama multilateral terasa sekunder. Organisasi regional dan forum bersama tetap ada, namun sering menjadi panggung pelengkap setelah keputusan inti dibuat melalui kanal langsung antara pejabat pertahanan dan intelijen.

Di sisi lain, tidak semua tindakan harus berupa pengerahan pasukan. Banyak “gerak militer” hadir sebagai pamer kemampuan: peningkatan patroli maritim, latihan gabungan di titik rawan, atau rotasi pesawat pengintai. Pesannya jelas—AS ingin memperlihatkan kesiapan tanpa selalu menanggung biaya politik dari operasi besar. Namun, ketika retorika ancaman sudah tinggi, negara-negara target cenderung menyiapkan respons asimetris: memperkuat kontra-propaganda, mendekat ke mitra alternatif, atau memanfaatkan sentimen nasionalisme.

Beberapa peristiwa yang ramai dibicarakan turut memperkuat persepsi bahwa Washington siap melangkah lebih jauh. Salah satu contoh yang menyedot perhatian publik adalah narasi seputar Venezuela dan isu penangkapan pemimpin negara, yang dibahas luas dalam berbagai kanal media. Perdebatan itu—terlepas dari detailnya—memperlihatkan bagaimana wacana tindakan langsung menjadi alat Pengaruh Politik yang kuat. Dalam konteks pemberitaan Indonesia, rujukan seperti laporan tentang penangkapan Maduro di Venezuela sering dipakai untuk membaca ulang pola lama: tekanan, delegitimasi, lalu opsi tindakan keras.

Di ujungnya, perubahan paling penting adalah normalisasi bahasa militer dalam percakapan diplomatik. Ini bukan sekadar gaya komunikasi; ia memengaruhi keputusan anggaran, prioritas bantuan, dan cara negara-negara Amerika Latin menilai risiko. Bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana uang, industri pertahanan, dan kalkulasi fiskal memberi “bahan bakar” bagi arah kebijakan tersebut.

Anggaran, industri pertahanan, dan logika kekuatan: mesin di balik Strategi Militer AS di Amerika Latin

Retorika bisa mengubah persepsi, tetapi anggaran menentukan kapasitas. Dalam beberapa tahun terakhir, belanja pertahanan AS bergerak naik signifikan: dari sekitar US$688 miliar (2019) menjadi US$852 miliar (2023), dan dokumen anggaran menunjukkan angka sekitar US$876 miliar untuk 2024 dengan komposisi base dan tambahan untuk beberapa kebutuhan global. Bagi Amerika Latin, angka-angka ini terasa tidak langsung, tetapi efeknya nyata: lebih banyak platform pengawasan, peningkatan kemampuan logistik, dan ruang untuk memperluas kerja sama keamanan berbasis teknologi.

Di Era Trump, peningkatan kapasitas tidak selalu diwujudkan lewat pendirian pangkalan baru yang mencolok. Sering kali, investasi difokuskan pada kemampuan “datang cepat dan melihat jelas”: pesawat patroli maritim, satelit, drone, perangkat intelijen sinyal, serta interoperabilitas dengan mitra yang dianggap kooperatif. Pada praktiknya, ini membuat operasi kontra-kartel dan penegakan di laut lebih efektif, karena jalur penyelundupan bisa dipetakan dan dipotong secara presisi.

Namun, anggaran pertahanan AS juga merupakan arena politik domestik. Di Partai Republik, perdebatan mengenai seberapa besar belanja militer tidak seragam. Ada kubu yang selalu mendorong dominasi militer, ada yang fokus menekan defisit, dan ada sayap “America First” yang ingin belanja besar tetapi lebih selektif dalam komitmen luar negeri. Tarik-menarik ini berdampak pada Amerika Latin dalam bentuk ketidakpastian: program bantuan keamanan bisa diperluas untuk misi tertentu (misalnya kontra-narkotika), tetapi dipangkas untuk agenda yang dianggap tidak memberi hasil cepat.

Industri pertahanan ikut membaca peluang. Ketika bantuan untuk konflik jauh dari Belahan Barat diperdebatkan, produsen cenderung mencari pasar stabil melalui modernisasi sekutu dekat. Negara Amerika Latin yang memiliki hubungan baik bisa memperoleh akses pembiayaan, pemeliharaan, atau paket pelatihan yang lebih kompetitif. Tetapi di balik itu, ada konsekuensi: ketergantungan pada rantai pasok AS, serta kebutuhan menyesuaikan doktrin operasi agar selaras dengan standar Washington.

Untuk memperjelas hubungan antara anggaran dan fokus kebijakan, berikut ringkasan yang mengaitkan tren belanja dengan implikasi di kawasan.

Periode/Angka Kunci
Gambaran Anggaran Pertahanan AS
Implikasi ke Amerika Latin
2019: ~US$688 miliar
Basis modernisasi dan kesiapan
Penguatan pengawasan maritim dan intelijen untuk misi kontra-narkotika
2020: ~US$723 miliar
Kenaikan di akhir masa jabatan pertama Trump
Lebih banyak latihan gabungan selektif dan rotasi aset
2023: ~US$852 miliar
Peningkatan tajam dibanding 2019
Kapasitas proyeksi kekuatan dan dukungan logistik meningkat
2024: ~US$876 miliar
Base + tambahan kebutuhan global
Tekanan agar mitra kawasan ikut berbagi beban keamanan, terutama perbatasan dan laut
Proyeksi menuju target ~3% PDB
Potensi menuju kisaran ~US$1 triliun pada akhir dekade jika dikejar
Ruang lebih besar untuk operasi “presence” dan modernisasi mitra, tetapi memicu resistensi politik

Bagian menarik lainnya adalah bagaimana isu NATO dan target kontribusi sekutu (misalnya gagasan menaikkan standar dari 2% ke 3% PDB) memantul ke Amerika Latin. Ketika AS menuntut sekutu Eropa lebih mandiri, Washington cenderung mengalihkan fokus pada kawasan yang dianggap langsung memengaruhi keamanan domestik—perbatasan selatan, rute narkotika, dan migrasi. Dengan kata lain, Amerika Latin bisa memperoleh perhatian lebih besar bukan karena idealisme, melainkan karena kedekatan geografis dan efek politik dalam negeri.

Di level lapangan, perubahan itu diterjemahkan sebagai peningkatan kerja sama yang sangat teknis: pertukaran data, pelacakan keuangan kartel, serta operasi gabungan di titik pelabuhan. Apakah ini otomatis memperbaiki Keamanan Regional? Tidak selalu. Jika satu negara mendapat dukungan besar sementara tetangganya tidak, kartel bisa bergeser rute, dan kompetisi antarlembaga keamanan setempat justru meningkat. Itulah sebabnya topik berikut—operasi kontra-kartel dan dilema kedaulatan—menjadi pusat perdebatan.

Operasi kontra-kartel dan dilema kedaulatan: bagaimana Kebijakan Militer AS membentuk Keamanan Regional

Janji untuk “menghancurkan kartel” terdengar sederhana di mimbar politik, tetapi dalam praktik Strategi Militer menghadapi jaringan kriminal lintas negara penuh ranjau hukum dan diplomasi. Di Era Trump, wacana operasi darat atau tindakan langsung terhadap kartel sering muncul sebagai sinyal ketegasan. Dampaknya di Amerika Latin bukan hanya pada kartel, melainkan pada hubungan antarnegara dan legitimasi pemerintah lokal di mata publiknya.

Ambil contoh hipotetis yang lebih dekat: seorang jaksa antinarkotika di kota pelabuhan “Puerto Claro” melihat peningkatan intelijen dari AS—data kapal, transaksi mencurigakan, dan pola komunikasi. Dalam tiga bulan, aparat berhasil menyita kontainer besar. Ini kemenangan nyata. Namun, ketika tim penasihat asing hadir terlalu menonjol atau operasi gabungan dilakukan tanpa komunikasi publik yang rapi, oposisi politik mulai menuding pemerintah “menjual kedaulatan”. Kartel memanfaatkan isu ini untuk merekrut anggota baru: mereka mengemas diri sebagai “pelindung lokal” melawan campur tangan asing. Paradoksnya, keberhasilan taktis bisa memunculkan masalah strategis.

Di sinilah dilema utama: AS ingin hasil cepat, sedangkan penguatan institusi lokal memerlukan waktu dan kesabaran. Operasi militer atau paramiliter bisa memukul keras, tetapi tanpa reformasi polisi, peradilan, dan tata kelola pelabuhan, jaringan kriminal biasanya beradaptasi. Mereka berpindah rute, mengubah metode, atau menyusup ke lembaga negara. Karena itu, sebagian negara Amerika Latin menuntut agar dukungan AS tidak hanya berupa senjata dan pelatihan tempur, tetapi juga teknologi audit pelabuhan, perlindungan saksi, serta dukungan investigasi kejahatan keuangan.

Dimensi Hubungan Internasional juga rumit. Ketika AS memperluas patroli maritim di Karibia atau Pasifik Timur, beberapa negara menyambut karena membantu mengurangi penyelundupan. Namun, negara lain mencemaskan preseden: jika operasi keamanan lintas batas menjadi normal, siapa yang mengatur batasnya? Apalagi ketika retorika menyebut kartel sebagai “ancaman setara terorisme”, ruang untuk tindakan sepihak bisa terasa lebih lebar.

Untuk mengurangi friksi, beberapa mekanisme biasanya dipakai: perjanjian ekstradisi yang dipercepat, pusat komando gabungan, dan protokol berbagi intelijen. Masalahnya, mekanisme ini sering tidak setara. AS memiliki aset pengawasan yang jauh lebih besar, sehingga posisi tawarnya dominan. Jika pemerintah lokal sedang lemah atau terpolarisasi, kesepakatan keamanan bisa berubah menjadi isu pemilu, bukan sekadar kebijakan publik.

Di tingkat warga, dampak kebijakan juga terasa. Ketika operasi besar dilakukan, daerah tertentu mengalami peningkatan pos pemeriksaan, pengetatan jam malam, atau patroli bersenjata. Sebagian masyarakat merasa aman, sebagian lain merasa diawasi. Media lokal menyorot korban sipil, sementara pemerintah memamerkan angka penangkapan. Dalam situasi seperti ini, “keamanan” menjadi narasi yang diperebutkan: siapa yang berhak mendefinisikannya?

Agar kebijakan kontra-kartel tidak berhenti pada siklus kekerasan, beberapa negara mencoba pendekatan campuran: tekanan keras terhadap pimpinan jaringan, tetapi sekaligus program ekonomi di wilayah rekrutmen. AS kadang mendukung ini melalui bantuan non-militer, namun di Era Trump, bantuan cenderung diukur berdasarkan manfaat cepat terhadap stabilitas perbatasan dan aliran narkotika ke pasar AS. Hasilnya, negara yang bisa menunjukkan indikator cepat—penyitaan, ekstradisi, pemutusan rute—lebih mudah mendapat dukungan.

Ketegangan antara efektivitas dan legitimasi inilah yang kemudian mendorong topik berikut: bagaimana Diplomasi Militer dan “peta pengaruh” dibangun melalui latihan, penjualan alutsista, dan persaingan dengan Tiongkok/Rusia di Amerika Latin.

Diplomasi Militer, latihan gabungan, dan persaingan pengaruh: peta baru Hubungan Internasional Amerika Latin

Jika operasi kontra-kartel adalah sisi “keras”, maka Diplomasi Militer adalah sisi yang lebih halus namun sama menentukan. Di Era Trump, diplomasi semacam ini sering tampil sebagai serangkaian kunjungan pejabat pertahanan, latihan gabungan, serta tawaran modernisasi alat utama sistem senjata. Tujuannya bukan hanya meningkatkan kapasitas mitra, tetapi juga mengikat orientasi strategis mereka agar tetap dekat dengan Washington.

Latihan gabungan misalnya, bukan kegiatan seremonial. Di balik foto-foto tentara berlatih bersama, ada transfer prosedur: komunikasi taktis, standar interoperabilitas, hingga pola komando. Ketika sebuah angkatan laut Amerika Latin terbiasa menggunakan sistem dan prosedur AS, mereka cenderung membeli suku cadang, pelatihan lanjutan, dan perangkat lunak dari sumber yang sama. Ini menciptakan ketergantungan yang halus namun kuat—dan itulah bentuk Pengaruh Politik yang sulit ditandingi investasi infrastruktur semata.

Persaingan dengan Tiongkok dan Rusia membuat semuanya lebih tajam. Banyak negara Amerika Latin membutuhkan dana untuk pelabuhan, jalan, energi, dan konektivitas digital. Tiongkok menawarkan pembiayaan dan proyek cepat, sementara AS menyorot risiko keamanan: akses data, kontrol pelabuhan, dan potensi penggunaan ganda (sipil-militer). Dalam beberapa kasus, Washington tidak melarang secara terbuka, tetapi menautkan kerja sama keamanan dengan “higienitas” rantai pasok teknologi. Hasilnya adalah negosiasi kompleks yang melibatkan kementerian pertahanan, ekonomi, dan telekomunikasi sekaligus.

Di ruang domestik, isu ini memunculkan polarisasi. Partai pro-pasar mungkin menyukai investasi besar dari siapa pun, sedangkan kelompok nasionalis menolak ketergantungan pada pihak luar—baik AS maupun Tiongkok. Pemerintah yang pragmatis mencoba menyeimbangkan: menerima investasi, tetapi memberi konsesi keamanan kepada AS. Apakah itu berhasil? Tergantung ketahanan institusi dan kemampuan komunikasi publik. Tanpa transparansi, publik mudah curiga bahwa elite sedang menukar kebijakan nasional dengan bantuan jangka pendek.

Untuk memperlihatkan bagaimana diplomasi pertahanan bekerja dalam praktik, berikut contoh bentuk-bentuk instrumen yang sering dipakai dalam membangun kemitraan keamanan:

  1. Latihan gabungan tematik (maritim, anti-penyelundupan, bantuan bencana) untuk membangun interoperabilitas tanpa menimbulkan stigma “intervensi”.
  2. Program pendidikan militer bagi perwira muda, yang membentuk jejaring personal jangka panjang lintas institusi.
  3. Penjualan atau hibah peralatan yang disertai kontrak pemeliharaan, sehingga hubungan logistik berlanjut bertahun-tahun.
  4. Pusat koordinasi intelijen yang memungkinkan respons cepat terhadap ancaman, tetapi memerlukan aturan ketat agar tidak disalahgunakan politik domestik.
  5. Kerja sama penanganan bencana untuk membangun kepercayaan publik, karena dampaknya langsung terasa oleh warga.

Uniknya, bantuan bencana sering menjadi “pintu masuk” paling diterima publik. Ketika badai besar menghantam pesisir, helikopter dan rumah sakit lapangan bisa mengubah opini warga secara cepat. Di Era Trump, aspek kemanusiaan ini tetap ada, tetapi biasanya dibingkai sebagai bukti kepemimpinan AS di Belahan Barat. Narasinya: AS hadir, cepat, efektif—dan karena itu layak memimpin arsitektur keamanan kawasan.

Namun, diplomasi pertahanan juga bisa menciptakan kecemburuan regional. Jika satu negara menjadi “mitra utama”, tetangga bisa merasa tersisih dan mencari alternatif. Dalam jangka menengah, ini berpotensi memecah solidaritas regional. Karena itu, banyak analis menilai bahwa tantangan terbesar bukan sekadar mengalahkan kartel atau membendung pesaing global, tetapi menjaga agar peta kemitraan tidak berubah menjadi kompetisi antarnegara di Amerika Latin sendiri.

Untuk memperdalam pemahaman publik, diskusi media dan riset kebijakan kerap mengulas evolusi doktrin dan praktik intervensi AS di kawasan, termasuk jejak historis dan perubahan gaya di bawah pemimpin yang berbeda. Pembacaan semacam itu membantu menjelaskan mengapa sebagian pemerintah memilih merapat, sementara yang lain menjaga jarak—semuanya berangkat dari pengalaman dan kalkulasi risiko yang berbeda.

Studi kasus dan skenario dampak: Keamanan Regional, Pengaruh Politik, dan pilihan sulit negara-negara Amerika Latin

Untuk melihat konsekuensi Evolusi Kebijakan Militer AS secara lebih nyata, kita dapat membayangkan tiga skenario yang sering muncul dalam diskusi kebijakan di Amerika Latin pada Era Trump. Skenario ini bukan ramalan tunggal, melainkan cara membaca pola: apa yang terjadi jika negara memilih mendekat, menjaga jarak, atau mencoba menyeimbangkan semua pihak.

Skenario 1: “Mitra utama” dan percepatan kapasitas keamanan

Negara A memilih menjadi mitra utama AS. Mereka menandatangani paket kerja sama yang mencakup berbagi intelijen, modernisasi pelabuhan dengan standar keamanan tinggi, dan latihan gabungan maritim rutin. Dampaknya cepat: penyelundupan berkurang di satu koridor, beberapa tokoh kartel diekstradisi, dan investasi keamanan digital meningkat.

Namun, biaya politiknya juga besar. Oposisi menuding pemerintah terlalu tunduk. Ketika terjadi salah tangkap atau korban sipil dalam operasi besar, kritik menguat. Pemerintah lalu belajar bahwa keberhasilan operasi harus diimbangi komunikasi publik yang rapi, pengawasan parlemen, dan mekanisme akuntabilitas. Insight akhirnya: keamanan yang efektif membutuhkan legitimasi, bukan hanya senjata dan data.

Skenario 2: “Non-blok versi baru” dan tekanan ekonomi-keamanan

Negara B menolak kerja sama yang terlalu militeristik dan memilih membuka pintu lebar untuk investasi dari berbagai pihak. Mereka berharap pertumbuhan ekonomi mengurangi kriminalitas. AS merespons dengan pendekatan transaksional: akses intelijen dipersempit, bantuan pelatihan dikurangi, dan tekanan diplomatik meningkat terkait isu pelabuhan serta teknologi strategis.

Di dalam negeri, pemerintah B menghadapi dilema. Mereka tidak ingin kehilangan kedaulatan, tetapi biaya mengamankan perbatasan dan pelabuhan naik karena kriminalitas lintas negara tidak menunggu pertumbuhan ekonomi. Pada titik tertentu, B bisa terdorong menandatangani kesepakatan keamanan terbatas—bukan karena sepakat secara ideologis, melainkan karena kebutuhan operasional. Insight akhirnya: ketergantungan muncul bukan lewat paksaan terbuka, tetapi lewat kebutuhan kapasitas.

Skenario 3: “Keseimbangan pragmatis” dan seni bernegosiasi

Negara C memilih menyeimbangkan. Mereka menerima kerja sama keamanan AS untuk kontra-narkotika dan bencana, tetapi tetap membuka beberapa proyek ekonomi dengan mitra lain. Mereka membangun aturan transparansi: semua latihan diumumkan, semua bantuan dicatat, dan pengawasan sipil diperkuat. Model ini biasanya paling stabil, tetapi memerlukan kapasitas institusi yang kuat dan elite yang kompak.

Ketika terjadi perubahan pemerintahan, keseimbangan mudah goyah. Jika pemimpin baru lebih populis, ia bisa memakai sentimen anti-AS untuk menang pemilu, lalu setelah berkuasa tetap membutuhkan bantuan intelijen. Siklus ini umum: retorika berubah lebih cepat daripada kebutuhan keamanan. Insight akhirnya: yang menentukan bukan hanya orientasi luar negeri, tetapi ketahanan institusi dan konsistensi kebijakan.

Di antara skenario tersebut, Venezuela sering menjadi simbol paling kuat dalam perdebatan kawasan karena menggabungkan isu ideologi, sanksi, migrasi, dan risiko eskalasi. Ketika wacana tindakan paksa menguat, negara tetangga harus menghitung dampak kemanusiaan dan politik dalam negeri. Diskursus media mengenai peristiwa-peristiwa dramatis—termasuk yang disorot dalam pemberitaan terkait Venezuela—membentuk persepsi bahwa langkah-langkah ekstrem selalu mungkin, sehingga pemerintah di kawasan cenderung menyiapkan rencana kontinjensi.

Pada akhirnya, perubahan terbesar Era Trump adalah mengubah parameter negosiasi: isu yang dulu dibahas dalam bahasa pembangunan kini lebih sering dibahas dalam bahasa ancaman. Negara-negara Amerika Latin tidak sekadar merespons AS; mereka juga saling membaca gerak satu sama lain, karena keputusan satu negara bisa memindahkan tekanan kriminal ke negara tetangga. Dengan begitu, Keamanan Regional tidak bisa dipahami sebagai urusan bilateral saja—ia adalah jaringan keputusan yang saling mengunci, dan di situlah taruhan geopolitik kawasan pada masa ini.

Berita terbaru
Berita terbaru