Catatan dan Refleksi Haji by Anis Matta (Bag 1)

Opini43 Views

Perdananews.com – Catatan dan Refleksi Haji. Saya punya kebiasaan memikirkan sesuatu masalah dalam waktu yang lama secara terus-menerus. Ketika saya mempunyai konsentrasi dalam masalah politik, maka saya akan memikirkan masalah politik itu secara intens.

Tetapi, saya selalu menyediakan waktu-waktu untuk merenung, berpikir tanpa melakukan apa-apa. Dan juga menyediakan waktu tertentu, biasanya dua atau tiga hari, khusus untuk membaca.

Catatan dan Refleksi Haji

Jadi, jika ada masalah besar yang perlu dikaji dari berbagai sisi, maka biasanya saya menyediakan waktu satu hari atau dua hari tidak ke mana-mana, hanya khusus untuk membaca, merumuskan pikiran-pikiran saya tentang masalah itu.

Rasanya ada yang berbeda setiap kali saya menunaikan ibadah haji. Mungkin bermanfaat untuk saling berbagi cerita. Saya bersyukur bisa menu naikan haji pertama kali pada 1996 atas fasilitas dari Rektor LIPIA saat itu, Syekh Ibrahim Al-Husaen.

Suatu hari beliau memanggil saya ke kantornya dan menanyakan, “Sudah haji belum?” Saya jawab, “Belum.” “Mau haji enggak?” Saya jawab, “Tentu mau.”

Saya memberitahu peristiwa itu kepada kedua sahabat saya, Achmad Rilyadi dan Abu Bakar Al Habsyi. Ternyata mereka berdua juga mau ikut. Saya Kembali menemui Syekh Ibrahim dan bersyukur mereka berdua juga dapat kesempatan haji bersama.

Begitulah pada 1996 kami bertiga menunaikan ibadah haji dengan kegembiraan yang tak terkata. Begitu mendadak. Begitu cepat. Dan gratis!

Saya bersyukur karena bisa menyempurnakan rukun agama pada usia muda. Tapi saya juga datang dengan semangat lain yang tak kalah bergeloranya, yaitu melakukan napak tilas sejarah.

Haji adalah fakta sejarah dari sebuah agama yang tidak pernah selesai bertumbuh, berkembang dan menyebar. Dan tak akan pernah berhenti bertumbuh hingga kiamat kelak.

Haji adalah sejarah iman yang terangkai sejak ribuan tahun lalu. Sejak Nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail, hingga Nabi Muhammad SAW. Jadi, haji saya, dan haji semua orang, adalah kesinambungan sejarah iman itu.

“ Haji adalah fakta sejarah dari sebuah agama yang tidak pernah selesai bertumbuh, berkembang dan menyebar. Dan tak akan pernah berhenti bertumbuh hingga kiamat kelak.”

Anis Matta

Tapi mengapa saya datang, padahal saya tidak pernah bertemu Nabi Muhammad SAW? Apalagi berjumpa Nabi Ibrahim AS? Saya beriman kepada Allah yang gaib, dan kepada Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS yang tidak pernah saya lihat.

Kerja apakah yang bisa membuat iman seperti ini tumbuh tanpa disertai pandangan mata? Rahasia apakah yang membuat agama ini terus berkembang setelah mata rantai kenabian diputus?

Rasulullah SAW menyebut, mereka yang berjumpa dengannya lalu beriman kepadanya adalah “sahabat.” Tapi, kepada mereka yang tidak menjumpainya namun beriman kepadanya, beliau menyebut “saudara.”

Sebutan “sahabat” dan “saudara” menjelaskan betapa dalamnya pemahaman Rasulullah SAW tentang kesulitan manusia untuk menerima agama yang dibawanya tanpa harus bertemu dengan pembawa risalah.

Faktor visual dalam proses keimanan manusia sangat penting. Itu sebabnya beriman kepada yang gaib itu berat. Seperti itulah beratnya beriman kepada pembawa risalah yang tidak pernah kita lihat. Karena itulah Rasul menyebut kita “saudara.”

Tapi, bagaimana bisa kita beriman lalu “mencintai” sosok yang tak pernah kita lihat? Bagaimana mungkin seseorang bisa mengisi seluruh imajinasi kita lalu berubah menjadi keyakinan yang mengisi seluruh rongga hati kita?

Saat haji pertama itu saya datang melengkapi rukun agama dan mencari jawaban dari sejarah iman dan cinta itu.

Penulis Anis Matta

Sumber: Buku Haji Catatan dan Refleksi

(red/pni)

Comment