Mas Bowo dan Politik Principe

Opini, Politik9 Views

Oleh Dwipa Pramudya


Perdananews.comMas Bowo dan Politik Principe. Tak ada yang ingin menjadi pecundang pagi itu. Dua tim bersiasat adu strategi dan taktik. Dengan sebatang mallet–semacam stick pemukul dari rotan panjang 50-54 inci–di tangan untuk mengendalikan dan menggiring bola kayu berukuran 3 – 3,5 inci, kemudian merangsek masuk ke pertahanan lawan. Permainan berlangsung dalam periode tujuh menit yang disebut chukka. Keseluruhan permainan dapat berlangsung antara 4 – 6 chukka tergantung pada peraturan turnamen dan asosiasi masing-masing.

Polo Berkuda, itulah untuk pertama kalinya di sepanjang hidup saya menyaksikannya secara langsung. Saya masih ingat betul momen itu terjadi pada 17 Agustus 2015. Kebetulan, Mas Prabowo juga menggelar rangkaian acara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 tahun dengan mengambil lokasi di Nusantara Polo Club (NPC), Bogor, Jawa Barat. Sebuah klub polo berkuda eksklusif pertama di Indonesia yang dibangun oleh Prabowo Subianto di kawasan Jagorawi Golf & Country Club. Selain menjadi klub yang terbuka untuk membina olahraga polo berkuda yang saat ini masih belum lazim dimainkan di Indonesia, NPC juga membina tim nasional polo Indonesia, sampai sekarang.

Terus terang, sampai hari ini saya tidak paham regulasi pertandingan Polo Berkuda, yang konon merupakan jenis olah raga yang banyak disukai kaum bangsawan Eropa. Padahal pemain-pemain Polo terbaik Indonesia justru banyak yang berasal dari keluarga sederhana.

Polo Berkuda adalah permainan orang-orang kaya atau hanya milik kelas borjuis, sebuah pandangan yang menyimpang terlalu jauh dan jelas-jelas keliru.

Demi menunaikan sebuah ajaran agung yang menyebutkan, “Ajarilah anakmu berkuda, berenang, dan memanah.” Mungkin juga karena terinspirasi oleh sejarah para pemimpin dan pejuang nusantara yang dulu lihai berkuda, seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sudirman, hingga Bung Karno.

Begitulah, pada akhirnya Mas Prabowo dikenal sebagai tokoh politik yang memiliki peternakan kuda terbesar di Indonesia. Pada pemilu 2009, sebanyak 84 ekor kuda miliknya didaftarkan secara resmi saat mengajukan laporan harta kekayaan ke KPK.

Baca Juga: Neoliberalisme dan Oligarki di Mata Seorang Prabowo

Pertandingan Berkuda, sesungguhnya bukan hal asing bagi masyarakat Indonesia. Pembaca budiman tentu sangat mengenal Pacuan Kuda Ambal yang masyhur di sepajang Jalan Raya Daendels. Dia merupakan keramaian lokal yang selalu hadir setiap Hari Raya Idul Fitri. Pacuan kuda adalah bagian tradisi tak terpisahkan di Ambal dan kawasan Urut Sewu di wilayah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah; sebuah kawasan tua yang dihuni masyarakat berjiwa berani, patriotik dan merdeka.

Pacuan kuda tradisional lainnya ada di wilayah Gayo, Aceh. Sebuah tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda dan merupakan ajang silaturahmi bagi masyarakat tiga kabupaten/kota di dataran tinggi Gayo, yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Luwes. Keunikan lomba pacuan kuda Gayo yakni penunggangnya masih remaja di bawah umur 13 tahun.

Tak kalah populer adalah pacuan kuda tradisional Bima, Nusa Tenggara Barat. Bagi masyarakat Bima kuno, kuda menujukkan strata sosial seseorang. Selain itu, kuda Bima juga sudah tersohor ke seluruh penjuru Nusantara dan menjadi tunggangan para raja.

Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, juga memiliki kebudayaan yang tetap lestari hingga kini yakni Maen Jaran, begitu orang lokal menyebutnya. Maen Jaran merupakan lomba pacuan kuda tradisional masyarakat Sumbawa yang juga menjadi salah satu cara mendidik anak-anak Sumba agar menjadi pemberani dan sportif dalam berkompetisi sejak dini.

Seperti masyarakat umum lainnya, Mas Bowo juga memiliki kuda kesayangan. Namanya PRINCIPE. Kuda berwarna coklat dominan dengan helai rambut hitam berkilat dan mata yang tajam. Berjenis Lusitano keturunan Portugal. Principe yang dalam bahasa Portugis berarti Pangeran. Tahun 2016, Principe makin populer. Pasalnya, Jokowi yang baru 2 tahun menjabat sebagai Presiden itu berkunjung ke rumah Prabowo.

Acara tersebut ditandai dengan “belajar berkuda.” Jokowi menunggangi kuda bernama Salero, sedangkan Mas Bowo tetap bersama Principe, kuda Portugal kesayangannya.

Politik Principe. Begitulah saya menganalogikan gaya berpolitik Mas Prabowo. Bahwa mengelola sebuah negara besar seperti Indonesia, bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan banyak kesiapan, ketekunan, kegigihan, keberanian, kesabaran, dan kepercayaan diri yang besar. Layaknya mengendalikan seekor kuda, kita harus memahaminya kapan harus bergerak dengan jenis kecepatan canter, gallop, atau berhenti dan kemudian melompat tinggi. Koordinasi, kekompakan, dan keserasian gerak akan menciptakan langkah anggun nan gagah.

Di bawah kendali Mas Bowo kaki-kaki kuda Principe yang berambut lebat itu begitu lincah dan nampak berwibawa. Berjalan lurus perlahan, berlari kecil mengikuti kendali sang tuan.

Politik Principe menghadirkan keakraban seorang sahabat. Dari Jokowi hingga Gibran. Saling belajar mengendalikan nafsu diri sendiri, saling menghormati satu sama lain, dan mau mendengar secara seksama kisah dan cerita orang lain.

Baca Juga: Suatu Hari, Mas Prabowo di Atas Podium

Politik Principe sesungguhnya adalah cara Mas Bowo menghormati setiap anak bangsa, baik yang tua dan muda, laki dan perempuan, putih dan coklat; untuk bersama-sama mengelola bangsa yang merdeka, bangsa yang besar, bangsa yang kaya raya, bangsa yang akan terus bangkit berjuang melawan setiap bentuk penjajahan dan penindasan di muka bumi dalam persahabatan dan perdamaian abadi.

(red/pni)

Comment