by

Pengalaman Bersama Nakes (Tenaga Kesehatan)

Para sukarelawan itu, ternyata tidak saja berasal dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai tempat di Indonesia.  Ada yang dari NTT, Sulawesi Tenggara, Sumaterra Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, jawa Tengah, Jawa Timur dan lain-lain.

“Suster dari mana?”

“Saya dari Lamongan pak, tapi saya semenjak kuliah perawat sudah tinggal di Jakarta”.

“Soto Lamongan ya, sus?”

“Wah … bapak ini suka kuliner ya?”

 “Bisa masak Soto Lamongan?”

“Wah kalau saya ngga bisa pak.  Ibu saya yang pinter masak.  Punya warung Soto di Lamongan.  Saya suka makannya aja pak, makanya gembrot …. he he he …”, katanya dengan ketawa, sambil mengusap alkohol ke jari saya sesudah mengambil darah untuk sampel.

Setelah dirawat beberapa hari, kami berdua menyadari, betapa berat pekerjaan mereka.  Resiko tidak main-main.  Resiko adalah kematian diantara mereka sendiri, karena setiap hari bergaul dengan pasien yang terpapar covid.

“Berat ya bro bekerja seperti ini?”, tanya saya ke perawat Dominggus dari NTT (bukan nama sebenarnya).

“Ngga juga pak.  Ini pekerjaan biasa saja buat kami para perawat.  Pekerjaannya tidak sulit.  Ini tidak biasa saja (dia tidak menyebut ini kesulitan atau hambatan), karena pakai pakaian Hazmat selama delapan jam.  Saya dengar, yang masalah itu sebagian ibu-ibu yang dapat tamu bulanan”

Perdananews