by

Pengalaman Bersama Nakes (Tenaga Kesehatan)

Lain lagi penghiburan yang dilakukan perawat Relawati (bukan nama sebenarnya).  Perawat ini dengan gayanya yang berbeda, meskipun ada rasa emosional juga, mengomentari tulisan dari anak saya. 

“Itu dari anak ibu ya?”

“Iya suster”, jawab istri saya.

“Anak ibu berapa?”

“Satu sus”

“Anak saya juga satu, laki laki.  Sekarang ini lagi bandel bandelnya.  Baru lulus SMP, sekarang di SMA.  Tapi namanya anak ya bu, ya kangen juga saya?”

“Bukannya tiap hari ketemu?”

“Ngga bisa bu.  Kami ini semua nakes, ditempatkan di sebuah mess, bukan pulang ke rumah setiap hari”

“Suster tinggalnya dimana?”

“Di Jakarta.  Meskiipun dari Jakarta, kita tidak bisa pulang setiap hari.  Enam hari bekerja, empat hari _off.  Dalam masa off itu, kami boleh pulang ke rumah.  Kalau negatif kami boleh pulang, kalau positif ya ngga boleh pulang, untuk menghindari kluster covid di rumah kami masing-masing”.

Akhirnya dua ibu saling bercerita bagaimana mendidik anak laki satu satunya.  Kok ndilalah ya ada aja topik yang menjadi kesamaan.  Rupanya suster itulah yang menjadi lead suster yang menangai istri saya.  Ikatan emosional itu, rupanya juga bermanfaat saling merelease perasaan masing-masing.

Empati kami berdua semakin hari semakin bertambah melihat dengan kepala sendiri, bagaimana mereka berjuang demi pasien untuk bisa sembuh selama 24 jam sehari.

Dalam sehari mereka mengenakan pakaian Hazmat, yang seperti astronot itu, selama 8 (delapan) jam, tidak boleh dilepas.  Hanya kelihatan mata, bagian tubuh lainnya terbungkus rapat.  Tidak boleh/bisa makan minum selama itu.  Semua aktifitas dilakukan dengan pakaian tertutup, termasuk kegiatan ibadah.

Saya dan istri berusaha setiap saat menyapa mereka.  Menanyakan nama mereka, dari mana dan lain-lain pertanyaan personal yang sering tidak terkait dengan persoalan medis.

Perdananews