by

Pengalaman Bersama Nakes (Tenaga Kesehatan)

PERDANANEWS.COM – OPINI – Pengalaman Bersama Nakes (Tenaga Kesehatan). Covid itu spesifik dan unik, termasuk juga bagaimana kita secara personal memaknainya.  Bisa jadi pengalaman emosional saya bersama nakes ini berbeda dengan yang lain. Namun yang ingin saya sampaikan dengan tulisan ini adalah apresiasi dan empati saya kepada para nakes yang berjuang mempertaruhkan nyawanya, yang saya lihat sehari hari selama 24 hari, saya dirawat di Rumah Sakit.

Namanya dokter Auliawati (bukan nama sebenarnya).  Dia dokter yang bertanggung jawab atas kesembuhan istri saya. 

(Struktur di RS itu kira kira, ada penanggung jawab secara keseluruhan pasien covid, kemudian ada dokter penanggung jawab masing-masing pasien dan dokter spesialis dan ada dokter jaga yang bergiliran). 

Mereka per detik, menit dan jamnya didukung oleh perawat kepala dan para perawat sukarelawan lainnya.

Dokter Auliawati itu memandang tulisan spidol besar merah di sebuah kertas putih A4, yang dikirim oleh anak saya,

“Mama, Papa Cepat Sembuh!”.

Tulisan itu dipajang istri saya di meja sebelah tempat tidurnya, sebagai penyemangat istri dan saya untuk sembuh.

“Itu dari anak ibu?’, tanya dokter Auliawati.

“Iya dok”, jawab istri saya.

(Saat itu saya sudah masuk di ruang ICU, sehingga istri saya sendirian di kamar perawatan.  Rupanya itulah yang membuat “stress” istri saya (dia baru cerita belakangan).  Kondisi istri saya itu menarik perhatian dokter dan perawat.  Mereka berusaha menghibur sebisanya istri supaya tidak panik menghadapi situasi itu).

Dokter Auliawati kemudian memalingkan mukanya.  Meskipun dia seorang professional, tapi sebagai manusia biasa, dia tidak bisa menahan emosinya. 

“Tulisan itu mengingatkan anak-anak saya di Bandung.  Saya terpaksa berpisah dengan anak-anak saya selama menangani covid ini.  Kadang saya merasa sedih juga, bu.  Tapi ini panggilan tugas profesi saya.  Sudah menjadi konsekuensi saya, memilih profesi ini”.

Rupanya kata-kata inilah yang kemudian menyentuh istri saya.  Dalam istilah psikologi kalau tidak salah, inilah yang disebut “connected”, yaitu terhubungnya (emosi) dua orang yang mempunyai perasaan yang sama.  Akhirnya dua orang ibu ini saling curhat dan saling menghibur, melepas posisi masing sebagai dokter dan pasien.  Hubungan fungsional, pasien dan dokter ini kemudian berubah menjadi hubungan dua orang teman.

Perdananews